Sebuah hadits yang dituturkan oleh lisan suci seorang Rasulullah saw membuat saya terhenyak… Betapa tidak, sungguh ini (sepantasnya) membuat seorang (seperti saya) menjadi semakin kecil di mata-Nya. Ternyata segala amalan-amalan yang selama ini saya agung-agungkan, saya anggap akan menjadi bekal terbaik ketika berpulang kelak, di mata Sang Maha Tahu bisa jadi bukan apa-apa.
Tentunya ke-rigid-an Dia menyaring setiap amalan tidak bermaksud membuat seseorang menjadi kemudian berputus harapan dari-Nya, justru Ia inginkan kebergantungan yang semakin erat kepada buhul-buhul Agama-Nya. Ia inginkan kita semakin memperhatikan setiap sudut dari hati kita, merapihkan setiap lisan yang kita ucapkan, menjaga sang hati dari setiap lintasan keinginan, perasaan yang akan mengotori… siapa lagi yang paling tahu isi pojok terdalam Qalbu ini, selain diri sendiri dan Dia Sang Khaliq?
Betapa sulitnya… tapi itulah sebuah Jihad Al-Akbar, pertempuran yang bukan kita temui di luar sana, bukan memerangi orang lain, tapi memerangi liarnya hati kita sendiri… Berbesar hatilah, hidup kita tak akan berhenti di dunia ini, masih ada waktu tak berujung kelak di alam berikutnya yang harus kita jalani. Berjerih payah saat ini, akan menjadi layak kelak, ketika semua perbuatan selama hidup di dunia dapat kita pertanggungjawabkan, tentunya dengan sebuah penjagaan terhadap Qalbu. Dan itulah fungsi dari hadits ini (menurut saya – tentunya demikian juga dengan ayat-ayat Allah swt yang lain)… sebuah penjagaan hati, lebih jauh – Guidance untuk sebuah transformasi diri.
Sedikit menambahkan, ada sebuah Kitab dimana akan ditulis amalan-amalan manusia yang sudah bebas dan bersih dari ke-7 “saringan Allah” yang Allah swt tetapkan, Kitab Illiyyiin. Di dalam kitab itu, catatan amalan manusia yang tulus karena mencari Ridha Allah, akan disimpan, dan Allah Yang Maha Ilmu sendirilah yang menjaganya. Kitab lain yang akan mencatat amalan buruk manusia, yang bahkan tidak lolos melewati Langit Pertama penjagaan adalah Kitab Sijjiin. Yang saya bayangkan, pastinya Kitab Sijjiin milik saya sudah bertumpuk-tumpuk banyaknya, sementara Kitab Illiyyiin-nya mungkin masih kosong tak terisi…
Ah… kenapa jadi berpanjang-panjang.
Anggaplah ini upaya saya menasihati diri sendiri ya… dengan segala kerendahan hati.
Saya cuma berniat untuk berbagi. Semoga banyak berkah bagi kita “hanya” dengan men-tafakur-i hadits mulia ini. Amiin…
Selamat menikmati. (more…)