di satu malam yang basah oleh sisa-sisa tetes hujan
yang sudah tumpah di sepanjang sore tadi
di sebuah sudut jalan yang menjorok ke dalam
yang di sana teronggok gelondong kayu pohon tua bekas ditebang
di atasnya menumpang dua orang duduk merapat
entah karna menahan dinginnya malam
atau untuk maksud yang lain
engtay berkata, “aku janjikan yang terbaik untukmu,
tak pernah terbayang hidup ini tanpamu,
tidak utuh aku, apalah jadi hidup bila tak utuh,
karna tanpamu aku tak menjadi sesuatu,
aku hanya kan ½ menjadi,
mengertikah kamu? ini kesungguhan.”
sampek, “mana bisa manusia memberi janji?”
engtay, “yang dapat kujanjikan adalah lelah dan peluhku.”
sampek lagi, “akankah itu berlaku untuk semua keadaan?”
engtay, “barangtentu, tak ada syarat agaknya.”
sampek, “sungguhkah? aku ragu.”
engtay, “kenapa? kau menyakiti dengan ragu itu, tahukah kamu.”
sampek, “kau tinggal buktikan, sulitkah?”
mereka duduk merenggang… ada ketegangan.
engtay, “manalah sulit? namun tak tampakkah sedikit pun dimatamu upayaku?”
sampek, menjerit tertahan dalam hati, “ooh…benarlah adanya geletar bimbang ini,
sungguhkah cintanya hadir? yang katanya tersimpan di relung hatinya yang entah sebelah mana? duh, ragu yang menyesakkan. ku musti puas hati dengan jawaban pasti! musti!”
semakin merenggang… menjauh.
engtay dalam hati, “panas hati dibuatku dengan tatapan meragu itu. tak sangka dia tega hadirkan itu buatku setelah segala kesungguhanku…”
sampek tak sadar. tatapan mata yang lebih mengiris ketimbang kata. menghunjam di hati engtay yang tak siap dipertanyakan demikian rupa.
tatapan meragu itu pula yang akhiri malam itu tinggalkan sampek yang sesali diri, karna engtay gerah dan melangkah pergi.
masih bergaung di telinga, penggal ucapan engtay sebelum punggungnya menjauh pergi, “sampai terpuaskan dulu egomu, baru kelak (bisa jadi) aku kan kembali.”
sampek merana. sesali malam itu, sekali lagi.
ic@11.08.07 00:56