Mencoba memahami hidup mau tidak mau menjadi “lifetime activity” buat siapa pun, saya… kamu, siapa pun. Tidak mungkin lari darinya, menghindar apalagi hanya sekedar untuk bersembunyi. Lambat ataupun cepat kita harus kembali menghadapi, simply karena kita masih hidup. Tuhan masih membiarkan kita di sini, di dunia ini, untuk belajar, mengeksplorasi, me-riset, menganalisa, mengambil kesimpulan yang salah, merevisi, mencetuskan ide baru tentang hidup, keliru menyikapinya, berulang… terus… tak mungkin berhenti. Karena kita masih hidup.

Life is a gift. Ini adalah ladang bercocok tanam, disini kita berperang, disini pula menerima feedback alam sebagai refleksi tentang diri sendiri. Persembahan Tuhan agar kita pahami the “know-howof Life. Tuhan memang Maha Baik. He just want us To Learn… persis seperti yang dilagukan Alanis Morissette :

…You live you learn
You love you learn
You cry you learn
You lose you learn
You bleed you learn
You scream you learn…

Nothing ... (I said Nothing!) in this World, would happen without a Reason.

Tuhan mungkin humourous, Tuhan mungkin suka Satire Comedy, tapi Dia tak kan pernah berbuat sesuatu yang sia-sia. A single drop of water from the sky might happen for a reason.

How glad we should be realizing this… He gave ALL He had for Us. He even created the Universe for us… untuk apa? Simply, for us to Learn. Learn about the Reason.

Alasan mengapa Dia gugurkan dedaunan untuk kita, mengapa Dia iring-iringkan semut menuju sarangnya, mengapa Dia biarkan US menelan kekalahan melawan Vietkong setelah puluhan tahun menjajahnya, mengapa Dia tumbuhkan kumis pada laki-laki dan tidak pada perempuan, semua “mengapa” yang menghiasi peristiwa dalam hidup kita. Yang terlihat sepele, remeh-temeh sampai yang spektakuler dan maha. Subhanallah. Mengarungi hidup tak semata-mata kita lakukan dengan hanya mengandalkan segenap kemampuan manusia saja.

God will Lead us. Selama kita mau untuk dibimbing… and follow His path.

Namun somehow kita tidak mati dari keinginan diri, then how should we going to follow Him?

Saya membaca bahwa miraculously manusia melewati 5 tahapan menuju kematian : denial, anger, bargaining, depression dan acceptance. Ketika pemahaman “kematian” adalah kematian dari ego dengan segala selfish will kita masing-masing, bagi saya kemudian ke5 tahapan itu menjadi bermakna. Betapa sering saya men-deny kondisi saya per hari ini…. saya yang mudah panas walau dengan sekalimat kritikan, yang menjadi tamak ketika kesempatan mendapatkan materi demikian terbuka luas, yang takut kehilangan muka ketika dipersalahkan… atau apapun kondisi saya saat ini, I kept on denying. Saya berkilah kalau apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan orang lain, saya yang berkelit dengan membawa sederet hadits atau ayat yang saya jadikan pembenaran, there are many ways to deny yourself.

Seorang alkoholik yang ingin terlepas dari ketergantungannya berkali-kali keluar masuk pusat rehabilitasi. Tapi berulangkali pula ia kembali melihat alkohol sebagai solusi atas masalahnya. Di tiap kali sesi penyembuhan yang dia hadiri, dia mengatakan suaminya yang tak peduli padanya lah pangkal penyebab kecanduannya kepada alkohol. Atau betapa ia merasa teman-temannya kini merendahkan dirinya yang tidak lagi bekerja, melihatnya seolah-olah ia hanya menjadi beban keluarga. Atau mungkin keluhannya betapa saudara-saudaranya sama sekali tidak peduli dengan keadaannya, menelpon tak pernah, sebatas untuk sms pun tidak. Dia merasa sendiri tak seorang pun peduli, sedih, hancur merasa tak berguna… lalu? She chose to become an alcoholic.

Dia akan berhenti menjadi alkoholik IF ONLY semua keadaan yang di luar dirinya sudah berubah. She expect changes from outside then she will change too. That is a denial. She deny that her problems are about herself not other people, not her husband nor her relatives.

The healing process will start when she stop denying about her condition, stop put blame upon others, and start saying, “YES, I AM AN ALCOHOLIC.”

Manusia lahir dengan kehendak. Kehendak material kadang membawa nya jauh dari tujuan hakikinya. Ia melenceng jauh dari peta tujuan. Namun selama kita tak pernah berhenti belajar dari hidup, jujur pada diri sendiri, kita tak akan kering dari Hikmah. Pesan-pesan Tuhan yang tersisipkan di antara hiruk pikuk peristiwa, kesibukan hidup yang meronta minta perhatian, bagaikan oase yang melepas dahaga.