Haruskah berbangga jika sebagian besar hidupmu dipenuhi aneka duka? Orang bijak sering berkata duka dan suka ibarat mata uang yang datang bersama, tak terpisahkan. Semudah itu pulalah seharusnya aku mampu men-switch riuh rendah rasa bahagia dan menderita.
Haruskah manusia menjadi kebal rasa sehingga tak mampu membedakan mana kesedihan mana pula kebahagiaan? Ataukah pada akhirnya kita seharusnya hanya punya satu kalibrasi rasa — hanya Bahagia. Walaupun serangkaian nestapa datang menyerbu, walaupun amarah menggerogoti tanpa ampun, haruskah yang kurasakan cuma satu – berbahagia?
Banyak yang tidak kumengerti tentang bersyukur, ya Tuhan. Apakah ketika aku bersedih, sama dengan artinya aku tidak mensyukuri Mu? Bagaimana aku harus menjadi manusia? Bagaimana seharusnya aku mengarungi lautan hidupku, tanpa kehilangan rasa?
Ya, sometimes Love Song dont suit me at all… Tidak lagi menghampiri rasa berbunga-bunga yang seharusnya singgah. Hatiku tak bergeming. Tak mampir sedikit pun buncahnya bahagia, yang tampak adalah mengintipnya nestapa yang tak sabar ingin berkunjung. Tak bisa kubedakan lagi mana kesedihan mana bahagia…




